BPK PENABUR Jakarta

Iman, Ilmu dan Pelayanan

Rinjani Mountain – SDK PENABUR Bintaro

Bendera Penabur di atas
Puncak Gunung Rinjani
3726m dpl

Part 1: (persiapan)

Perjalanan ini sudah direncanakan 6 bulan sebelumnya, ditandai dengan mencari informasi perjalanan, perkiraan cuaca(musim), masalah-masalah yang mungkin akan dihadapi, tanggal pemberangkatan dan pulang, pemesanan tiket pesawat, kamar hotel, dan lain-lain.
Persiapan lainnya adalah:

1)    Latihan fisik.
Kami latihan setiap hari 2 jam minimal,kegiatan yang kami lakukan
Adalah: scot rush, push up, sit up, lari, naik sepeda, dll.
Terkadang bila kita melakukannya terlalu keras tubuh akan terasa sakit dan kita tak akan bisa
berlatih selama rasa sakit itu masih ada,bila kita lanjutkan bisa tejadi cedera, cacat,dll.
Bila itu terjadi malah kita tak akan bisa mendaki “Gunung Rinjani.”

2)    Pesiapan Barang.

Kami membeli barang-barang bersama keluargaku dan Keluarga sahabatku.
Kami berkeliling kota dan mencari barang yang bagus dan murah.
Kami menggunakan sepatu khusus dengan bawahan/sol merek “VIBRAM”.(agar telapak kaki tidak sakit).
Kami juga menggunakan baju , pakaian dalam, kaos kaki,dan jaket khusus yang bahannya dapat langsung membuat keringat/air cepat kering.
Kami juga menggunakn topi, jaket, pakaian dalam, baju khusus dan dengan lapisan anti UV.
3)Persiapan Makanan
Ayahku membuat   makanan ber kalori tinggi. Dengan perhitungan yang tepat  dengan bantuan ibuku.  Makanan itu bernama “Mushly.”

PART 2 :( Anggota)
Anggota kami ada 44 orang. Beberapa tinggal di “Hotel Santosa”-Mataram.
Anggota kami yang pergi naik “Gunung Rinjani” ada 32 orang.
16 Dewasa dan 16 anak-anak (SD-SMA). Beberapa dari anak-anak itu ada 5 dari Sekolah Penabur , Yaitu :
-Albert Louis {BPK Penabur Bintaro_VB_2}
-Chandra Louis {Penabur Gading Serpong_X_8}
-Naomi Nathania {Penabur Pintu Air_VII A_}
-Benyamin Irfon {Penabur Pintu Air_XI IPA 1_4}
-Kevin Qlintang {SMAK BPK Penabur Kelapa Gadimg_X-4}

PART 3:(Perjalanan)
Pada tanggal 26 Agustus 2011 kami pergi dari rumah ke  “Bandara Soekarno Hatta”
Kami berangkat dari rumah jam 15.00-16.00, check in jam 17.30, pesawat take off jam 18.00.
Kami sampai di Lombok jam 20.00, perbedaan waktu di Lombok dengan Jakarta beda
1 jam lebih cepat, berarti waktu setempat sudah pukul 9.00 malam.  Sampai di kota Mataram jam 21.30. Kami berkumpul di “Hotel Santosa” jam 23.00. “Hotel Santosa”adalah hotel bintang 4.
Keesokan harinya kami berangkat dari hotel jam 8.00  ke Sembalun, desa terakhir sebelum kami memulai pendakian.

Sampai di Sembalun Jam 11.00. Sesampainya di sana kami makan dulu ?,kami memesan makanan, sampai makanan datang kami perlu menunggu 2 jam,karena kebetulan kami berjumlah 32 orang.
Setelah Guide kami selesai menjelaskan rute perjalanan dan berdoa, kami langsung menggunakan topi anti UV dan tongkat khusus untuk mendaki. Entah mengapa saat hari pertama terasa sangat melelahkan,menurut kami mungkin itu karena kami tidak makan “Mushly” dan hari pertama kita memulai pemanasan seperti halnya orang ber olahraga pada awalnya.

Terletak pada ketinggian 1600 m di atas permukaan laut, desa ini merupakan “savana” padang rumput yang luaaaas. Sejauh mata memandang, hamparan rumput yang luas bagai karpet raksasa dan menguning karena musim kemarau menghiasi alam. Sekali-kali kami melintasi kawanan sapi yang banyak dan bebas di padang ini, namun di sana juga banyak kotoran sapi, jadi kita tidak boleh sampai menginjaknya. Sungguh pemandangan yang tidak dapat dibeli di kota.

Kami merasa sangat panas karena panas sinar matahari sekitar jam 1.00, namun angin sangat kencang yang terkadang membuat kami sangat dingin, maklum Sembalun ini merupakan desa yang cukup tinggi. Kemudian kami berhenti beberapa kali. Tujuan kami hari itu adalah sampai di   Pos 2. Makan sorenya sangat lezat, karna di suhu yang dingin kami makan lumayan banyak.

Pada saat malam itu kami sedikit susah untuk tidur entah kenapa. Keesokan harinya di pagi hari ke 2 pendakianku aku, kakakku, dan beberapa temanku yang lainya mengambil air. Untuk mengambil air yang bersih itu kita harus turun ketempat yang lumayan dalam dan terjal. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan kami sampai di Pos 3. Di situ kami  memakan “SNICKER”rasa coklat lezat yang juga makanan ber kalori tinggi.

Lalu kami melanjutkan pejalanan menuju“7 Bukit Penyesalan,”salah satu jalur yang sangat panjang dan melintasi 7 puncak bukit yang sangat melelahkan, pada titik itu kita akan menyesal karena untuk mundur sudah tidak mungkin sedangkan pejalanan kedepan juga masih sangat jauh.
Di situ,  di hari itu lah kami sangat-sangat lelah namun pemandangan bagus dan suara angin yang bertiup menyemangatiku, membuatku lupa rasa lelahku.

Tujuan kami hari itu adalah untuk bisa sampai ke “Pelawangan”, Pelawangan adalah gunung setelah “7 Bukit Penyesalan”. Saat semangat ku hampir putus kudengar suara pepohonan, angin yang kencang yang menggoyangkan pepohonan, suara-suara itu membuat ku semangat. Setiap langkah dapat kusentuh tumbuhan halus yang bergoyang dan berbunyi, seakan mereka berkata agar aku harus tetap berjuang sampai ke atas,awan biru yang amat cerah mulai terlihat.

Setelah sampai di pelawangan aku duduk diam sejenak dan mendengarkan bunyi-bunyi itu untuk terakhir kalinya. Lalu aku kembali bermain dan bernyanyi bersama teman-temanku.
Di situ kami tidak boleh berkata angin dan hujan,karena ada penunggunya. Bila angin dkatakan angin akan berhembus kencang, bila hujan disebut akan turun hujan deras.
Di tempat kami mendirikan tenda, puncak gunung Rinjani kadang-kadang muncul dari balik awan dan terlhat sangat gagah, sepanjang sore ayahku mempelajari jalur pendakian ke puncak dengan teropong untuk memastikan apakah aku dan beberapa temanku diperbolehkan ikut ke  puncak. Kami semua sangat bersemangat.

Sore hari menjelang malam akhirnya diputuskan bahwa beberapa di antara kami tidak diijinkan ikut serta dalam pendakian “summit attack” pagi nanti berdasarkan sulitnya medan yang akan dihadapi dan bahaya yang mengancam, salah satunya termasuk aku uhu..uhu.

Tapi aku dan teman ku tidak sedih karena itu adalah putusan yang terbaik untuk kami.
Pada malam  menjelang keberangkatan ke “Puncak Gunung Rinjani”aku terbangun dan membantu mempersiapkan untuk kakak dan ayahku yang akan pergi ke puncak. Jam menunjukkan pukul 01.00. Malam sangat gelap dan dingin sekali, untung kami sudah memakai pakaian khusus. Bersamaan dengan hembusan angin yang kencang ayahku dan kakakku dan teman-teman yang lain berjalan menghilang dalam kegelapan.
Setelah itu aku kembali tidur, namun aku merasa agak takut karena angin yang kencang mungkin akan menerbangkan tenda kami. Aku juga berdoa pada Tuhan Yessus Kristus memberikan keselamatan pada kami semua, ternyata Tuhan mengabulkan doa ku.

Pagi  jam 8.30 kami meneropong ke puncak dan bisa melihat ayahku dan teman-teman yang lain sudah mulai turun dari puncak, dan benar saja setelah agak lama ditunggu akhirnya MEREKA KEMBALI……..!!!!!!
Sehingga kami semua sangat gembira dapat berkumpul lagi dan turun ke danau. Menurut cerita kakakku, memang benar aku tidak ikut karena pendakian ke puncak sangat-sangat berat dan bahaya, jalur aman kadang-kadang hanya  1 m dengan kiri-kanan jurang yang tegak lurus dan sangat dalam.

Dingin yang sangat-sangat dingin meskipun sudah pakai pakaian khusus dan angin dan butiran pasir yang berhamburan sangat berat, padahal kakakku dan ayah ku sudah pakai “google,”kaca mata pelindung debu.
Murid Penabur yang berhasil sampai ke puncak adalah :
-Chandra Louis {Penabur Gading Serpong_X_8}
-Benyamin Irfon {Penabur Pintu Air_XI IPA 1_4}
Sedangkan Kevin Qlintang {SMAK BPK Penabur Kelapa Gadimg_X-4} harus berhenti melangkah hanya tinggal +/- 100 m lagi !!! Karena serangan dingin yang tak tertahankan lagi dan berlindung sambil menunggu matahari terbit, sayang……(tapi benar kata ayahku untuk menghindari resiko yang lebih bahaya).

Hari ke 3 Danau Segara Anakan adalah tujuan kami dan merupakan tujuan yang sangat menyenangkan karena di situ kami dapat beristirahat dengan santai dan bermain sepuas-puasnya sambil mandi yang sudah tidak kami lakukan 2 hari ini.

Saat turun aku berlari lompat dan beberapa kali aku hampir jatuh. Aku percaya bahwa aku selamat karena pertolongan dari  Tuhan Yessus Kristus. Dan aku juga berterima kasih pada teman-temanku yang menghawatirkanku dan menjagaku.

Sesampainya di danau aku agak takut karena ada gunung yanag meletus 1 tahun yang lalu. Lalu ada juga cerita asli dari Guide kami bahwa danau itu angker,sehingga aku tidak terlalu berani untuk berenang, karna katanya ada orang yang di tarik ke dalam danau itu. Katanya danau itu dianggap keramat, di situ kita tidak boleh melempar batu, berteriak, dan yang lainnya. Kata Guide kami waktu itu seorang di dalam tenda diserang serigala kata mereka, padahal tak ada apa-apa. Di danau itu pun terkadang ada suara kaki raksasa yang berjalan. Waktu itu juga sempat ada tenda yang bergoyang dan retsleting tenda terbuka sendiri. Pada malamnya di danau itu kudengar suara serigala dan anjing di luar .

Aku sungguh takut karena bayanganku anjing itu berwarna hitam, banyak luka darah,dan tulang mereka yang keluar dengan gigi mereka yang tajam. Namun itu hanya fantasi gila ku ?. Kami mandi di air yang sangat hangat bisa juga dibilang panas =D.Bila kita sudah masuk kedalam tempat itu kita tak akan mau keluar. Bila kita ingin berenang di air panas itu kita harus turun duluuuu. Bila kita terlalu lama di air panas itu kepala kita akan terasa pusing dan sakit saat kita keluar dari air panas itu. Di danau itu kabarnya dan kata Guide kami penunggunya sangat banyak. Aku sempat berenang sedikit bersama teman-teman ku, air sangat dinginn…ada bayak batu tajam di sana. Kata Guide kami mungkin itu tulang dari orang-orang yang ditarik tenggelam ke dalam danau itu.

Keesokan harinya kami masih berada di danau itu,di siang harinya kami melihat bekas letusan gunung berapi yang membesar kawahnya. Angin tiba-tiba jadi amat kencang, air danau menjadi berombak sekitar 50 cm. Danau itu di sekitarnya ada banyak perbukitan yang membuat danau itu seperti sebuah mangkuk yang berisi sop. Tapi di tengah danau itu terdapat sebuah gunung yang baru saja meletus.
Pada malam pertama kami lewati dengan tenang dan damai, namun tidak pada malam ke dua.

Anginnya pada malam hari semakin kencang dan bergemuruh. Saat kami bermain kartu di dalam tenda, tiba tiba angin kencang datang dan membawa pasir yang amat banyak masuk kedalam tenda kami. Saat kita tidur pun demikian seperti itu, muka terkena pasir hingga pagi. Keesokan harinya kuperiksa pasak di semua tenda, ternyata semua pasak sudah hampir terbang. Di situ anginnya seperti angin puting beliung dan topan yang lewat persis didepan kami. Bunyi angin itu sungguh kencang dan membuatku takut, sehingga aku susah untuk tidur. Beberapa teman kami tidak tidur sampai pagi. Dengan kejadian itu kami ingin cepat-cepat pulang dan pergi dari situ, apa lagi sempat ada gempa  dan gunung yang akan runtuh, memikirkannya saja membuatku takut.

Di hari ke 5 kami pergi menuju ke bawah. Namun kami harus menaiki sebuah gunung lagi untuk bisa kembali. Sambil berjalan kami melihat pemandangan yang amat indah dan amat berbahaya, karena di samping jalan itu adalah jurang. Ada banyak orang yang jatuh di perjalanan itu beberapa tahun yang lalu kata Guide kami. Jadi kami berhati-hati berkat itu kami semua jadi selamat. Dan kami dapat berkumpul lagi. Dan di situ jalanan nya menurun dan berpasir, namun ada juga yang ber batu. Aku dan beberapa temanku turun sambil berlari. Terkadang kami terperosot. setelah kami sampai dengan baju yang sedikit kotor. Kami bercanda, bermain, ngobrol, dan bercerita bersama. Pada malamnya setelah makan Guide dan porter kami berkata bahwa kita tak boleh berteriak dan berkata yang aneh-aneh. Pada malamnya banyak dari kami yang bermimpi aneh dan seram.

Ada yang bermimpi :

•    Dibunuh Teman
•    Bergentayangan
•    DLL

Keesokan harinya kami membahas itu semua. Lalu kami melanjutkan perjalanan kami. Kali ini benar-benar panas tanpa udara dingin sedikit pun. Tambah lagi kami melihat 8 monyet sambil kami berjalan. Karena jalannya menurun seperti hari yang lalu, kami berlari lagi. Namun kali ini bebeda karena lebih Extreme. Kami berlari, lompat, berputar, dan menyeret di tanah. Kali ini aku kena hukumannya dari Tuhan mungkin karena aku berlari.

Saat aku berlari karena banyak pegangan pohon yang halus aku berlari sangat cepat, kebetulan kira-kira kemiringan tanahnya 50 derajat. Jadi kami dapat berlari sangat cepat apa lagi saat dekat desa kemiringan tanah bisa mencapai 60 derajat. Disitu kami bagaikan hampir terbang. Tas yang ku gantung di leher saking cepatnya dan karena tanahnya tidak mulus jadi tas ku terbanting jauh hingga kotor. Aku tak bisa berhenti jadi aku tepaksa berhenti dengan cara melompat dan menghentakkan kaki ku sekeras-kerasnya ke sebuah batu yang tertanam dalam ke tanah, namun batu itu lepas karena dorongan dan hentakan keras dari kakiku. Aku terperosot dan jatuh pada akhirnya, tapi tas itu berhasil ku ambil . Lalu tanpa sadar ternyata aku berlari lagi dan yang kali ini aku benar-benar tak bisa berhenti. Kakiku terasa sakit karena kami lompat-lompat sambil berlari. Aku berniat mengejar yang ada di depanku sayangnya karena aku tadi minum sprite aku merasa mual dan tak bisa menyelip mereka. Tapi aku terus berlari hinggga akhirnya aku hampir sampai namun kali ini kakiku terkilir sehingga aku tak dapat berlari lagi selama 1 jam.

Setelah kami sampai di bawah aku merasa sungguh hidup. Di situ kami membeli baju dan gantungan kunci. Sayangnya baju dan gantungan kunci di sana sangat sedikit, dan jumlah anggota kami yang banyak kami hanya dapat membeli sedikit.
Lalu kami naik truk dan pergi ke sebuah hotel. Kami meginap di hotel ke 3. Hotel itu memiliki 4 kamar. 3 kamar untuk orang  tua kami (setiap kamar 2 orang) dan 1 kamar untuk 6 anak-anak. Setelah selesai memilih kamar, kami makan di ruangan terbuka yang berada di atas kamar kami. Di sana kami bercerita tentang sekolah, tentang perasaan masing-masing, dan mengungkapkan perasaan yang terpendam selama di Gunung Rinjani. Pokoknya Seru :D ?.

Lalu aku berenang sendirian di kolam renang depan😥. Awalnya kami hanya berjalan di air yang tingginya sekitar 60 cm, lalu berlanjut ke ciprat-cipratan air, dan akhirnya saat aku berdiri aku  terpeleset tapi hanya se leher, namun karena airnya sangat dingin yang lainnya tak mau berenang. Lalu saat aku merangkak di air ada lumut, SPLAASSSHHHH..!! aku tercebur seluruhnya X_X.
Setelah selesai berenang aku dan teman-temanku mandi. Kamar mandinya amat besar..!! ada 2 shower, lantainya dari bebatuan halus, ada 2 bathtube, dan kamar mandinya kira-kira luasnya 6X6 M. Setelah selesai mandi kami bermain kartu black jack, capsa, UNO, dan kartu bohong :D . Kami bermain hingga tengah malam.

Keesokan harinya kami mandi lagi, lalu kami pergi ke Hotel Santosa. Makanan khas Lombok adalah makanan pedas, aku tak kuat memakannya.
Akhirnya perjalanan kami ke Gunung Rinjani diakhiri dengan mengunjungi Pulau Gili Trawangan  sebuah pulau yang ramai oleh orang asing.
Sungguh sebuah perjalanan yang penuh petualangan, semoga liburan berikutnya aku dapat berkumpul lagi dengan teman-temanku.

DSCN9465 DSCN9555 DSCN9590 DSCN9591 DSCN9600

Sekolah Kristen BPK PENABUR – SDK PENABUR Bintaro Jaya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on June 23, 2013 by and tagged , .
%d bloggers like this: