BPK PENABUR Jakarta

Iman, Ilmu dan Pelayanan

MY JOURNEY

MY JOURNEY

 Berdiri di tengah kilatan cahaya..

Di mana jutaan mata memandang

Mewujudkan mimpi yang telah dirajut bersama

Andai kau di sisiku sekarang

 Tampil di depan semua orang merupakan suatu impian yang telah lama kurajut bersama kakakku tercinta. Hari demi hari kami menapaki jalan mimpi itu bersama, melewati segala suka dan duka, menembus segala halangan yang merintang, sampai akhirnya masa itu tiba. Petualangan ajaib penuh kenangan itu dimulai saat kami bahkan tidak mengerti apa-apa tentang dunia pertunjukkan yang membesarkan nama kami….

“Sudahlah, jangan bernyanyi terus. Nanti pita suaramu rusak dan suaramu tidak merdu lagi”, seru Mom mengingatkanku. “Sudahlah, Mom. Jangan khawatir. Aku akan baik-baik saja, lagipula menyanyi memang hobiku.” “Iya, iya, Nak. Masih kecil saja kau suka bernyanyi, kamu mau jadi penyanyi, ya?” tanya Mom lagi. “Ya..begitulah, tapi mimpiku sebenarnya lebih besar dari itu. Aku ingin menjadi seorang penyanyi yang menginspirasi orang banyak, dengan lagu-laguku yang akan membawa semangat pada mereka” jawabku. Pada saat itu aku sangat terobsesi dengan dunia entertainment. Bagaimana tidak? Penampilan mereka yang memukau di atas panggung, ditambah dengan alunan suara yang merdu. Setidaknya mereka, para penyanyi, dianggap sebagai seorang yang sangat hebat dan patut ditiru, seorang idola tepatnya.

Sekilas aku mendengar suara denting piano di ruang tengah. Steffi, kakakku memang sangat senang bermain piano. Ia memang tidak belajar piano secara profesional, namun permainan pianonya tetap saja dapat menenangkan hati semua orang yang mendengarnya. “Hei, Layla. Aku belajar lagu baru hari ini, Defying Gravity yang diambil dari drama musikal Wicked. Lagu ini sangat cocok dengan warna suaramu. Mau coba?” Steffi berkata. “Boleh juga”, sahutku.

Kami berlatih lagu ini sampai suaraku habis. Kami berdua sangat menyukai sesi latihan kami. Walaupun hasilnya tidak sempurna, namun permainan piano Steffi dapat memberikan warna baru pada suaraku dan menghasilkan suatu kolaborasi musikal yang patut dihargai oleh siapapun yang menyaksikannya. Walaupun Steffi dan aku memiliki banyak perbedaan, namun kami sepertinya dihubungkan oleh suatu ikatan musik yang kuat. Hal ini sepertinya diwariskan dari Dad, pahlawan kami yang sekarang sedang berkeliling dunia untuk konser tunggal gitar pertamanya yang  telah dinanti-nantikan setelah 20 tahun berkarya dan mengabdi di bidang musik.

“Itu sangat menyenangkan, Steff. Kita latihan lain kali, ya” kataku kepada Steffi. Steffi hanya tersenyum kepadaku. Pada malam harinya, aku masih ingin mencoba menyanyikan lagu tersebut. Rasanya lagu itu dapat melepaskan segala beban yang ada dari dalam tubuhku, membawaku terbang ke angkasa, dan merasa bebas. Defying Gravityberarti “melawan gravitasi”, bebas dari segala tekanan yang membuat kita tidak bisa terbang bebas ke angkasa. Suaraku masih agak kurang pas di beberapa tempat, namun aku yakin aku pasti bisa memperbaikinya.

Keesokkan paginya, matahari bersinar sangat cerah, namun tidak secerah wajahku karena aku mencoba menghafalkan lirik lagu tersebut semalaman. Namun ternyata bukan hanya wajahku yang tidak cerah, wajah Steffi juga. “Hai Steff, kamu kelihatan tidak bersemangat hari ini, ada apa?” tanyaku. “Hai juga, aku mencoba menghafalkan lagu ini semalaman, ya aku sangat bodoh, bukan? Aku hanya terobsesi dengan lagu ini, itu saja”, kata Steffi. Ternyata bukan aku saja yang merasa sangat tertarik pada lagu tersebut. Steffi juga memiliki minat yang sama denganku. Sekilas, aku memiliki ide yang sangat cemerlang.

“Kau tahu kan Steff, ada kontes menyanyi yang diselenggarakan oleh salah satu stasiun radio di dekat sini. Bagaimana kalau kita mendaftar bersama?” tanyaku. “Apa?! Apa kau cukup yakin kalau kita bisa menang? Biar bagaimanapun kita hanya pemusik amatir saja” jawabnya. “Tidak ada salahnya mencoba, bukan?” tanyaku lagi. Aku memang sangat menyukai adanya tantangan. Dan tantangan semacam ini tidak bisa aku lewati begitu saja.

Setelah kubujuk dan kurayu untuk beberapa saat, aku akhirnya dapat meyakinkan Steffi untuk mendaftar ke kontes tersebut. Dan tentu saja, untuk menghadapi segalanya, kami harus mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik. Kami berlatih setiap hari, mencoba gaya yang baru setiap hari, dan menyempurnakan lagu tersebut. Steffi juga punya ide untuk sedikit mengubah warna lagu tersebut menjadi lebih ceria.

Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Kami datang ke stasiun radio tersebut untuk mengikuti audisi. Aku mengambil nomor urut dan kami mendapatkan nomor ke delapan. “Delapan angka yang bagus, benar kan Steff?” kataku kepada Steffi. Kami menunggu sambil memperhatikan peserta audisi yang lainnya. Mereka terlihat sangat…percaya diri. Penampilan mereka sepertinya sudah disiapkan dengan sangat baik. Ada yang berdandan sangat cantik, namun ada juga yang sepertinya terlalu berlebihan. Sebenarnya aku agak minder dibandingkan dengan mereka semua.

Akhirnya tiba nama kami dipanggil. Kami masuk ke suatu ruangan, berpegangan tangan karena kami sangat gugup. “Jadi kalian ingin berduet?” tanya seorang juri yang kelihatannya cukup ramah. “Tidak, aku bernyanyi dan kakakku mengirinya dengan bermain piano” jawabku. Sebenarnya aku juga belum seratus persen yakin kalau diperbolehkan memakai musik iringan. Dan ketidakyakinan tesebut berubah menjadi kenyataan, kenyataan yang pahit tentunya. “Tentu saja tidak boleh. Ini kontes menyanyi, bukan bermain musik. Kalau begitu, hanya kau yang bernyanyi saja yang boleh mengikuti kompetisi ini” kata juri berkacamata dengan ketus.

Ini tidak adil! Steffi harus ikut, kami harus bersama-sama ikut kompetisi ini!  “Kalau begitu, aku juga akan bernyanyi bersamanya! Dengan syarat kalian mempersiapkan sebuah piano atau organ di sini” Steffi berkata. Aku tidak bisa berkata apa-apa. Bermain piano memang keahlian Steffi, tapi bernyanyi? Bukannya aku meremehkan kemampuan kakakku sendiri, tapi aku sampai saat ini belum pernah mendengarnya bernyanyi.

Juri mempersilahkan kami memakai sebuah keyboard dan Steffi mulai memainkan intro lagu tersebut. Ia memang bernyanyi bersamaku dan suaranya pun lembut, selembut hatinya. Kami menyelesaikan lagu ini dan para juri memberikan standing applause. Kami tidak tahu harus berkata apa. Yang kami lakukan hanyalah bernyanyi dengan hati kami.

Kami menunggu pengumuman di auditorium yang terdapat di gedung tersebut, sampai akirnya, si juri kacamata itu naik ke atas panggung. Ia menyampaikan pidato singkat, ucapan terima kasih atas partisipasi seluruh peserta dan tibalah saatnya nomor peserta dibacakan. “Dan pemenangnya adalah…” Aku merasakan cengkeraman tangan Steffi sangat kuat dan aku yakin dia juga merasakan hal yang sama, kami sangatlah gugup! “No 8!” ia melanjutkan. Aku dan Steffi sangatlah kaget, kami naik ke panggung dan mendapatkan hadiah berupa uang tunai yang tidak terlalu besar dan kesempatan untuk tampil di salah satu tempat di kota ini.

Setelah merayakan kemenangan tersebut untuk beberapa saat, tibalah kesempatan bagi kami menggunakan hadiah sampingannya, yaitu kesempatan tampil di salah satu tempat di kota, dan tempat tersebut murni merupakan keputusan aku dan Steffi. Setelah beberapa saat berpikir, aku dan Steffi memutuskan untuk tampil di festival seni yang akan digelar beberapa minggu ke depan. Festival seni tersebut akan digelar di lapangan terbuka, memungkinkan dapat menampung penonton sebanyak-banyaknya.

Waktu 1 bulan sebelum pertunjukkan perdana kami sepertinya sangat singkat dan banyak menyita waktu kami. Steffi dan aku memilih laguListen dari drama musikal Dreamgirls. Tema lagu tersebut sepertinya cocok dengan tema festival tersebut, Mimpi. Lagu tersebut memiliki tingkat kesulitan yang lebih daripada lagu sebelumnya, namun kami tetap berlatih, hari demi hari untuk menyempurnakannya. Ini seperti mimpi yang menjadi kenyataan, dimana kami dapat tampil di depan penonton banyak walaupun hanya untuk tingkat kota.

Saatnya pun tiba, kami telah mempersiapkan segala sesuatunya. Mom membuatkan sepasang baju yang bagus untuk kami berdua dan Mom bahkan telah menyisihkan waktunya secara khusus untuk menyaksikan penampilan perdana kami. “Menyanyilah dengan hati” Mom mengingatkan kami lagi. “Pasti, Mom” kataku

Kami berdua naik ke panggung dan menyanyikan baris demi baris lagu tersebut. Alunan melodi dari piano yang dimainkan Steffi benar-benar membuat penonton ikut dalam suasana yang telah kami ciptakan. Penampilan kami selesai, dan lagi-lagi kami sangat terkejut melihat reaksi penonton yang sepertinya menyukai penampilan kami. Kami kembali ke tempat kami.

“Kalian berdua memang benar-benar hebat!” kata seorang pria berkaca mata hitam yang tiba-tiba menepuk bahuku. “Terima kasih” kataku dan kembali berjalan, menganggap ia hanyalah salah seorang penonton yang mengagumi penampilan kami. “Tunggu dulu, sepertinya bakat yang kalian miliki akan sia-sia saja kalau tidak digunakan dengan baik” lanjutnya. Aku menjadi sangat penasaran. Sebenarnya siapakah dia ini?

“Maaf membuat kalian bingung. Nama saya Sam, Sam Evans. Saya adalah salah seorang dari agen pencari bakat yang disebar ke seluruh penjuru kota untuk mencari para musisi berbakat secara diam-diam. Dan sepertinya kalian cukup memenuhi criteria yang dianjurkan. Ini kartu nama saya, silahkan datang ke alamat yang ada di sini jika kalian tertarik” katanya sambil memberikan kartu namanya. Steffi mengambil kartu nama tersebut dengan ragu-ragu sekaligus tidak percaya. Kami akan menjadi bintang!

Steffi dan aku langsung menyampaikan kabar mengejutkan ini kepada Mom. Mom pada awalnya juga tidak percaya namun selanjutnya ia hanya berkata, “kejarlah mimpimu, apa yang kalian lakukan, asalkan itu hal yang positif, pastilah Mom dukung. Kalian memang benar-benar seperti ayah kalian!”

Keesokkan harinya kami mendatangi kantor yang tercantum di kartu nama tersebut. Kami disambut oleh Mr Evans dan langsung diberikan penjelasan lebih lanjut. Perusahaan rekaman tersebut memang akan benar-benar membuat kami menjadi bintang! Kami akan dikontrak selama dua tahun dan kami akan mengeluarkan album pertama kami! Ini benar-benar sebuah mimpi yang menjadi kenyataan.

Kami berdua sepakat untuk memberi judul album pertama kami “Sebuah perjalanan” dan kebanyakan lagunya berisi pengalaman kami menuju dunia hiburan. Aku menulis lirik dari sebagian lagu dan Steffi yang membuat melodinya. Ada satu lagu spesial berjudul  “Mutiara yang terindah” Itu lagu khusus yang kami ciptakan untuk Mom.

Setelah sekitar 3 bulan, kami sibuk menghabiskan waktu kami di studio rekaman dan akhirnya album tersebut selesai. Setelah sekitar 2 minggu beredar di pasar, kami sudah mendapat banyak tawaran untuk tampil di berbagai tempat dan acara. Tentu saja itu membuat kami sangat senang.

Bagai mimpi yang menjadi kenyataan, itulah yang sebenarnya terjadi pada kehidupanku dan Steffi. Kepopuleran, penggemar, menjadi keseharian kami. Segalanya berubah sejak album pertama kami diliris. Memang menyenangkan menjadi popular, namun ada juga hal yang aku rindukan. Tidak ada kebebasan lagi karena kemana pun kami pergi, kami harus menyamar. Kalau tidak, para penggemar kami pasti akan histeris dan langsung menggeromboli kami.

Tahun pertama sebagai performer berjalan dengan lancar. Kami memasuki tahun kedua dengan album baru, yang kami beri judul “Transformasi”, menceritakan bagaimana hidup kami berubah setelah kami menjadi penyanyi. Penjualan album ini juga meroket dan tawaran untuk tampil juga meningkat. Tentu saja aku dan Steffi sangat menyukai hal ini, hal yang sudah lama kami impi-impikan sejak masih kecil.

Namun, tidak selamanya ketenaran menjadi sebuah hal yang menyenangkan. 3 bulan setelah peluncuran album kedua, kami berdua diundang untuk menghadiri acara jumpa penggemar yang pertama di salah satu mall. Di sanalah tepatnya, tragedi bagiku dimulai.

Lantai ground mall tersebut penuh sesak dengan para penggemar, mereka tidak sabar lagi untuk bertemu dengan kami. Tiba-tiba Steffi punya suatu ide yang cemerlang. Ia ingin membuat surprise bagi para penggemarnya dengan mendatangi mereka secara diam-diam. Aku pun awalnya menyetujui hal tersebut, namun aku menyesal, kalau saja waktu itu aku menolak, hal ini pastilah tidak akan terjadi.

Ia menyelinap keluar dan menyapa para penggemarnya, namun tidak pernah terpikirkan oleh kami bawa para penggemar kami sangatlah agresif. Mereka tiba-tiba berubah histeris, saling mendorong di tengah situasi yang ramai, sampai beberapa orang terjatuh. Beberapa orang di sana mencoba memegang tangannya atau bajunya dan menyebabkan Ia terjatuh ke lantai juga. Situasi berubah menjadi panas dan kacau. Ada banyak penonton yang terinjak-injak di lantai, termasuk Steffi yang jatuh. Steffi yang malang, berakhir di sana.

“Apa?!” aku berteriak histeris saat mendengar kabar tersebut dari salah seorang petugas yang ada di sana. Keadaan di mall menjadi kacau balau dan acara hari itu dibatalkan. Aku tidak tahu harus berkata apa pada Mom yang pasti akan sangat terkejut. Namun, aku tidak mungkin merahasiakan hal ini dari Mom. Dengan berat hati, aku mengambil ponselku, menekan nomor telepon rumah dengan perlahan, menunggu tersambung walaupun aku tidak ingin tersambung selamanya, namun dalam hitungan detik, sambungan sudah terhubung.

“Halo? Ada apa Layla? Sudah selesai acaranya?” suara Mom terdengar di ujung sana, membuatku tidak tega menyampaikan kabar ini. “Mom…cepat ke rumah sakit…Rumah sakit Grand Paradise..Steffi..ada di sana” aku hanya berhasil mengatakan hal tersebut. Langsung kututup percakapan tersebut, aku tidak mau ditanyakan macam-macam oleh Mom. Aku juga langsung pergi ke rumah sakit, mendampingi Steffi.

Steffi langsung ditangani oleh para dokter di sana. Kulihat Mom datang dengan tergesa-gesa. “Ada apa sebenarnya Layla?” tanya Mom cemas. Aku tidak bisa menjawab apa-apa, hanya terdiam dalam perasaan bersalah. “Keadaan di mall sangat kacau…Ia..” kalimatku terhenti melihat para dokter keluar dari ruangan.  “Bagaimana keadaannya, Dok?” tanya Mom.

“Maafkan kami, kami telah melakukan yang terbaik” kata Dokter tersebut. Aku tak kuasa menahan tangis, aku dan Mom berpelukkan. Steffi kami telah tiada. Aku berniat untuk segera mundur dari panggung hiburan, setelah yakin bahwa tidak ada apa-apa lagi yang dapat kuperbuat setelah Steffi tiada. Berdiri bersama menghibur penonton adalah impian kami berdua, jika ia tidak ada lagi, apakah gunanya mimpi itu?

Saat aku menyampaikan keinginanku, Mom dengan segera mencegahku. “Kamu pasti lupa mimpi kamu yang sesungguhnya, menyampaikan pesanmu melalui lagu dan menginspirasi orang banyak. Jangan berhenti bernyanyi sebelum berhasil melakukan itu” kata Mom. “Percuma Mom, tidak ada Steffi lagi! Ia sudah pergi!” jawabku. “Dia tidak pergi, dia tetap hidup di dalam hatimu, hati Mom, hati kita semua, ia tetap selamanya ada di sini” kata Mom sambil menunjuk dadaku.

Perkataan Mom ada benarnya juga, aku berencana akan meliris sebuah single yang khusus aku buat untuk Steffi. Aku menyampaikan usul ini pada Mr Evans dan ia dengan senang hati menerimanya. Sesampainya di rumah, aku memutuskan untuk benar-benar mencurahkan perasaanku pada lagu ini.

……………………………………………………………………………………………………………………………………..

Davenport Art Theater,

28 Januari 2011

“Lagu terakhir akan dibawakan oleh Ms Lawrence dengan lagunya yang berjudul “Andaikan!”

Lampu teater dipadamkan dan hanya lampu panggung yang menyala. Alunan musik mulai mengalun dengan merdu disusul munculnya seorang gadis yang sangat cantik dalam balutan gaun malam bewarna gelap.

 Kuberjalan lintasi kesepian ini

Awan awan gelap dan kabut tebal menanti

Tiada kutakut atau gentar hadapi semua

Karena kutahu ada kau di sisiku.

          Gadis tersebut menyanyikan intro lagu yang bertempo pelan tersebut. Suaranya lembut namun juga kuat, mencoba membawa hadirin masuk ke dalam ceritanya.

Hari demi hari kujalani

Masih tidak terlihat tanda-tanda cahaya

Kubingung dan bimbang menentukan langkah

Namun ada kau di sana yang memandu kakiku

 Saat saat duka berlalu

Tangis air mata berubah menjadi senyum ceria

Semuanya berubah secepat kerjapan mata

Semuanya, karena kau yang ada di sini menemaniku

          Reff lagu ini dinyanyikan dengan emosional, menunjukkan betapa terkaitnya ia dengan lagu ini, baris demi baris dinyanyikan dengan penuh perasaan, mengundang hadirin untuk turut merasakan sensasinya.

Saat yang gelap pun datang kembali

Saat dimana aku mulai kehilangan arah

Saat dimana ku tidak temukan kamu disisiku

Tolong jangan tinggalkan aku sendirian

          Bridge lagu mulai dinyanyikan, musik berhenti sejenak pada akhir kalimat memberikan kesan dramatis pada lagu ini. Sang penyanyi cantik pun melanjutkan lagunya, menceritakan bagian akhir dari lagu tersebut.

 

Berdiri di tengah kilatan cahaya..

Di mana jutaan mata memandang

Mewujudkan mimpi yang telah dirajut bersama

Aku tahu kau ada di sisiku sekarang

SMPK 2 PENABUR Jakarta, jl. Pembangunan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on May 5, 2014 by .
%d bloggers like this: