BPK PENABUR Jakarta

Iman, Ilmu dan Pelayanan

STUDY LAPANGAN GURU-GURU IPS DAN PKN SMPK PENABUR

Peserta di depan Dieng Theater

Satu tahun telah direncanakan oleh guru-guru IPS dan PKn untuk dapat melakukan study lapangan ke Jawa Tengah bagian utara, akhirnya terwujud juga walaupun mengalami banyak kendala terutama waktu keberangkatan, mengingat semua sekolah jenjang SMP mempunyai kegiatan masing-masing.

Bus yang membawa rombongan

Pada tanggal 11 Maret 2011, tepatnya hari Jumat waktu yang ditentukan untuk keberangkatan peserta, ada dua titik keberangkatan yaitu dari Tanjung Duren dan SMPK 5 Penabur Cipinang Indah. Pemberangkatan dari Tanjung Duren pukul 14.00 WIB, bus menuju ke Cipinang. Setelah menjemput peserta dari Cipinang, tepat pukul 17.30, peserta menuju Wonosobo Jawa Tengah. Pada malam itu peserta tidur di bus. Makan malam dilakukan di RM Nagrek pada pukul 20.00. Perjalanan dilanjutkan menuju Wonosobo.

Makan malam di Nagrek

Pada pukul 05.00, hari Sabtu tanggal 12 Maret, peserta sampai di Wonosobo untuk transit dan MCK di RM Sari Rasa. Di tempat inilah peserta bergiliran untuk mandi dan dilanjutkan makan pagi. Setelah makan pagi peserta bersiap untuk berganti bus, mengingat bus besar tidak dapat menuju Dieng maka berganti dengan microbus. Ketika menunggu bus, ternyata di depan RM Sari Rasa adalah SMPN 2 Wonosobo, peserta melihat anak-anak sekolah di sekolah ini sangat rapi, tidak ada saupun anak yang bajunya tidak dimasukkan, peserta dibuat juga tercengang ketika ada siswa yang terlambat pintu pagar sudah tertutup, siswa-siswa tersebut harus menunggu di luar pagar.

Siswa yang terlambat di SMP N 2 Wonosobo

Tepat pukul 07.30 peserta telah berganti menaiki microbus menuju Dieng Plateau. Obyek yang dikunjungi adalah :

1.    Dieng Theater yang memutar film Dokumenter tentang keadaan Dieng, dalam film documenter itu disuguhkan secara singkat keadaan daerah Dieng secara gegografis, kegiatan ekonomi penduduk, daerah Dieng secara andministratif, serta obyek-obyek wisata yang ada di dataran tinggi Dieng.

2.    Obyek yang kedua yang dikunjungi adalah Telaga Warna, peserta dapat melihat pemandangan yang indah dari telaga warna dan dijelaskan bahwa dalam telaga tidak ada makluk hidup karena kadar belerang yang sangat tinggi. Telaga ini sering memunculkan nuansa merah, hijau, putih, biru, dan lembayung.

Telaga Warna Dieng

3.    Setelah  mengunjung Telaga Warna peserta diajak untuk mengunjungi Museum Kaliasa, dalam museum ini tersimpan informasi geologi tentang Dieng. Dalam museum ini juga ada tersimpat foto-foto kegiatan masyarakat Dieng, baik secara social, ekonomi, dan agama.

Koleksi Museum Kaliasa

4.    Dari Museum Kaliasa Dieng peserta diajak mengunjungi komplek Candi Dieng. Menurut sejarah nama Dieng sendiri berasal dari kata Di dan Hyang   yang artinya tempat tinggal para Dewa,  oleh sebab itu banyak candi didirikan di Dieng, karena semakin tinggi tempat semakin dekat dengan para Dewa menurut kepercayaan Hindu. Candi- candi yang ada di Dieng diberi nama dengan nama-nama wayang seperti dalam kitab Mahabarata yaitu : Arjuna, Sembadra, semar, Srikandi, Setyaki, dan gansiran Aswatama, Bima dan lain-lain. Dari candi-candi yang ada diperkirakan dibangun pada abad 8-9 M pada masa pemerintahan Dinasti Sanjaya. Candi-candi ini bersifat Hindu. Candi Bima adalah candi terbesar dan tertinggi di Dieng. Candi ini sangat berbebeda karena mendapat pengaruh India yang sangat kuat, utamanya India Selatan. Candi Bima dibangun kira-kira abad 13 M. Tidak banyak sumber sejarah yang menuliskan tentang candi-candi yang ada Dieng, baik prasasti maupun sumber lain.

Komplek Candi Arjuna

Candi Bima

5.    Obyek terakhir yang dikunjungi adalah Kawah Sikidang, sebenarnya banyak kawah yang ada di Dieng diantaranya adalah : Sibanteng, Sileri, Sinila. Kawah Sikidang paling banyak dikunjungi wisatawan karena paling mudah dicapai. Kawah ini terkenal karena lubang keluarnya gas selalu berpindah-pindah di dalam kawasan yang luas. Karena sering berpindah-pindah seperti rusa/kidang, maka orang-orang sekitar menyebutnya kawah Sikidang .

 Kawah Sikidang Dieng

Dari Kawah Sikidang peserta selesai mengunjungi obyek yang ada di dataran tinggi Dieng, peserta diajak kembali ke Wonosobo untuk melanjutkan perjalanan berikutnya, sebelum sampai di tempat transit peserta mengunjungi Home Industri pembuatan manisan Carica. Carica adalah buah seperti pepaya hanya kecil sebesar buah kedondong. Carica ini hanya tumbuh di sekitar Dieng. Peserta dijelaskan cara pembuatan manisan Carica selain itu peserta juga berbelanja di tempat ini untuk oleh-oleh.

Buah Carica Dieng

Setelah makan siang di RM Sari Rasa peserta meninggalkan Wonosobo menuju Ambarawa, jalur yang dilewati sangat menantang karena harus naik turun bukit, ditambah lagi dengan hujan deras yang mengguyur maka waktu yang dibutuhkan mencapati 4 jam. Rencananya apabila sampai di Ambarawa sore akan mampir ke museum Palagan Ambarawa, berhubung telah larut malam maka kunjungan ditunda keesokan harinya. Sebelum ke Hotel peserta diajak makan malam di RM Baran Permai Bandungan. Setelah makan malam peserta menuju hotel Amanda Hill di Bandungan.

Pagi hari tanggal 13 Maret 2011, setelah makan pagi di hotel peserta melanjutkan perjalan untuk menuju Candi Gedongsongo, tidak banyak manuskrip/peninggaln yang menuliskan tetang candi Gedongsongo, melihat dari bangunan yang tipenya sama dengan komplek Candi Dieng, maka candi Gedongsongo diperkirakan dibangun sekitar abad ke 8-9 M. Jumlah candi ada 9, dengan letak yang berjauhan. Tetapi candi yang untuk hanya ada 5 yaitu dari Gedong Satu sampai Gedong Lima, sedangkan yang lainnya tinggal kaki candi yang bielum dapat direkonstruksi.

Komplek Candi Gedong V (Gedongsongo)

Komplek candi Gedongsongo adalah candi Hindu, hal ini didasarkan pada peninggal Lingga-Yoni   yang ada di dalam candi. Lingga Yoni ini adalah lambang dea Siwa dan dewi Durga, artinya adalah kesuburan. Di komplek Gedongsongo disuguhkan panorama yang sangat indah, dengan kendaraan kuda untuk mencapai puncak tertinggi dari Candi yang ada. Selain itu kita dapat juga meninkmati uap panas yang keluar dari kawah yang ada di komplek Gedongsongo.

Selesai obyek Gedongsongo peserta menuju museum Palagan Ambarawa, Di depan museum menjulang tinggi monumen perang Ambarawa, monument ini menjadi peringatan bagi kita untuk selalu mengenang jasa para pahlawan dalam mempertahanakan kemerdekaan RI. Monumen ini dibangun untuk memperingati keberhasilan TKR mengusir Sekutu yang pada saat itu diboncengi oleh tentara NICA yang ingin berkuasa di Republik Indonesia kembali. Dalam peristiwa perang Palagan Ambarawa putra terbaik Indonesia gugur yaitu Kolonel Isdiman.

Monumen Palagan Ambarawa

Dari Museum Palagan Ambarawa peserta dibawa ke kota Semarang setelah terlebih dahulu makan siang di IBC (Ikan Bakar Cianjur). Obyek pertama yang dituju adalah Kelenteng Sam Po Kong. Kelenteng ini dibangun untuk mengenang kedatangan Laksamana Ceng Ho ke Jawa pada tahun 1400 an. Di kelenteng ini kita dapat melihat bangunan megah kelenteng yang tidak saja menjadi tujuan wisata bagi masyarakat tetapi juga tempat ibadah bagi umat Kong Hu Cu. Peringatan akan kedatangan Laksamana Ceng Ho ditulis dengan berbagai versi bahasa, diantaranya : Mandarin, Inggris, dan Indonesia. Di samping Kelenteng adalah Mesjid  Juru Mudi, ini mengingat karena yang ada dalam rombongan besar Ceng Ho tidak saja beragama Kong Hu Cu tetapi juga banyak yang beragama Islam termasuk Laksamana Ceng Ho sendiri.

Kelenteng Sam Po Kong

Hujan Deras mengiringi kita berkunjung di Kelenteng Sam Po Kong, dari Kelenteng ini peserta menuju ke Gereja Blenduk di kawasan Kota Lama Semarang melewati Tugu Muda. Gereja ini sekarang bernama GPIB Immanuel, yang masih digunakan untuk kebaktian  sampai sekarang. Arsitektur gereja ini berdasarkan Salib Yunani dengan bentuk Hexagonal. Gereja ini dibangun pada tahun 1753 dan direnovasi tahun 1894. Dinamakan gereja Blenduk karena kubahnya yang menggembung (Mblenduk = Jawa). Dalam gereja ini juga tersimpan Orgel  Barok.

Gereja Blenduk/GPIB Immanuel Semarang

Dari Gereja Blenduk perjalanan dilanjutkan ke Lawang Sewu, yang letaknya masih di Kota Lama semarang.  Di sebut Lawang Sewu karena gedung ini memiliki banyak sekali pintu walaupun tidak berjumlah seribu, karena pintu yang sangat banyak masyarakat menyebutnya gedung seribu pintu (Sewu = Seribu).  Gedung ini dibangun pada tahun 1904 sebagai kantor Jawatan Kereta Api Belanda (NIS). Setelah kemerdekaan gedung ini digunakan sebagai kantor DKARI/Djawatan Kereta Api Republik Indonesia. Gedung ini juga pernah digunakan sebagai Kantor Badan Prasarana Komando Daerah Militer (Kodam IV Diponegoro). Pada masa pendudukan Jepang gedung ini menjadi saksi pertempuran antara AMKA (Angkatan Muda Kereta Api) melawan pasukan Jepang. Sayang gedung ini sekarang kosong dan hanya digunakan pada event-event tertentu saja.

Gedung Lawang Sewu Semarang

Dari Lawang Sewu Peserta di ajak ke kawasan Jl. Pandanaran yang merupakan China Town Semarang, di kawasan ini peserta berbelanja oleh-oleh untuk dibawa kembali ke Jakarta. Akhrinya pada pukul 19.30 peserta meninggalkan kota Semarang setelah lebih dahulu makan malam di RM Mbok Berek. Puji Tuhan peserta dapat tiba kembali di Jakarta pada tanggal 14 Maret 2011 pukul 05.00.

 (Yunianto/Guru IPS SMPK 5)

Sekolah kristen BPK PENABUR Jakarta – SMPK 5 PENABUR Jakarta, Cipinang Indah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on May 5, 2014 by .
%d bloggers like this: